Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Januari 2014
Cara Perhitungan Persediaan Akhir (Tanpa Stock Opname)
Ada dua metode cara mencatat persediaan yaitu metode perpetual dan metode periodik. perhitungan persediaan akhir tidak ada masalah jika perusahaan itu menggunakan metode perpetual, karena saldo persediaan akhir dapat diketahui kapan saja yang kita mau. Yang jadi masalah jika perusahaan itu menggunakan metode periodik. Kita mengetahui tidak sedikit perusahaan kecil-menengah yang masih menerapkan sistem periodik, sehingga untuk menghitung persediaan akhir harus dilakukan stock opname. Nahh... jika begitu, andaikan anda itu bekerja di salah satu perusahaan yang masih menggunakan metode periodik dan atasan anda meminta Laporan keuangan ke anda diakhir bulan ini (misal bulan september), padahal biasanya perusahaan anda melakukan stock opname diakhir tahun.
Terus begaimana reaksi anda mengenai hal itu?, apakah anda merasa bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan atau anda tetap tenang dan tahu strategi yang harus dilakukan atau bahkan kamu menolak penugasan dari atasanmu? Eitss... tidak usah bingung atau bahkan setres dengan hal itu. Ok, tetap tenang dan berpikiran jernih. Ada strategi cara menghitung saldo persediaan akhir tanpa harus melakukan stock opname terdahulu.
Ilmu ini saya dapat dari membaca artikel di salah satu web yang membahas masalah perhitungan saldo persediaan akhir tanpa Stock opname. Dari ilmu yang saya dapet dari web tersebut saya mencoba untuk menuliskan kembali dengan bahasa saya sendiri mengenai cara perhitungan saldo persediaan akhir tanpa stock opname. Nahhh bagaimana caranya? pasti anda mulai penasaran atau bahkan mulai menerka-nerka cara nya. Caranya cukup sederhana dan bisa anda pelajari dengan mudah. Ok, berikut penjelasannya:
Strategi Cara Perhitungan Saldo Persediaan Akhir Tanpa Stock Opname
meliputi sebagi berikut:
1. Dengan melihat Kartu persediaan. Dengan melihat kartu persediaan kita langsung dapat mengetahui saldo akhir per item barang persediaan dan langsung bisa dijumlahkan. itu jika perusahaan mempunyai kartu persediaan, nahh jika perusahaan tidak mempunyai kartu persediaan bagaimana?, ok, tetap tenang dan tidak usah panik. ada cara lainnya kok untuk menghitung persediaan akhir tanpa stock opname. Mau tahu?, berikut penjelasannya.
2. Dengan cara mengestimasi metode laba kotor atau Gross profit method.
Kita semua mengetahui bahwa rumus untuk menghitung:
Laba kotor = Penjualan bersih - HPP
HPP = Penjualan Bersih - Laba kotor
atau HPP = Persediaan awal+ pembelian - persediaan akhir
Persediaan Akhir = Persediaan awal + pembelian - HPP
Masalahnya HPP tidak diketahui (karena menggunakan metode periodik).
Jika demikian kita dapat melakukan perhitungan estimasi laba kotor untuk menghitung persediaan akhir.
dengan syarat tersedianya data sebagai berikut
Penjualan bersih, Persediaan Awal, pembelian persediaan,
Contoh kasus: anda sebagai seorang akuntan di Perusahaan ABC. Atasan secara mendadak meminta Laporan keuangan sampai dengan tgl 30 september. Secara kebetulan perusahaan tempat anda bekerja menggunakan sistem periodik dan stock opname bisanya dilakukan diakhir tahun tepatnya di tanggal 31 desember. Data yang tersedia hanya: Penjualan bersih dari 1 januari - 30 september sebesar 90.000, persediaan awal 35.000, dan pembelian persediaan dari tanggal 1 januari -30 september sebesar 40.000.
dari data yang telah ada berapa jumlah saldo persediaan akhir 30 september?
Jawaban:
ada dua langkah perhitungan yaitu menghitung estimasi HPP nya dulu, baru dilanjut menghitung estimasi saldo persediaan akhir.
karena ditempat anda bekerja tidak mempunyai kartu persediaan, maka anda memutuskan untuk mengestimasi jumlah persediaan akhir dengan cara menggunakan metode Laba kotor. Untuk mengestimasi laba kotor anda bertanya ke atasan berapa tarif laba kotor per item persediaan dan atasan anda mematok laba kotor untuk semua item persediaan sebesar 50%. untuk cara perhitungannya sebagai berikut:
Estimasi HPP = Penjualan bersih - Estimasi laba kotor
= 90.000 - (50% x 90.000)
= 90.000 - 45.000
= 45.000
Estimasi persediaan akhir = Persediaan awal + pembelian - estimasi HPP
= 35.000 + 40.000 - 45.000
= 30.000
jadi jumlah estimasi persediaan akhir 30.000 yang anda masukkan ke dalam laporan keuangan.
PERLU DIINGAT DAN DICATAT: bahwa cara tersebut hanya berupa estimasi dan masalah keakuratannya tidak 100% akurat. Cara diatas tidak diperbolehkan sama sekali dalam penyusunan laporan keuangan akhir tahun (laporan diakhir periode buku). Bagaimanapun jumlah kondisi persediaan akhir bisa diketahui secara akurat hanya dengan melakukan pengecekan fisik persediaan (stok opname). Estimasi diatas bisanya hanya untuk keadaaan darurat.
Begitulah penjelasanya. Jika anda suka bisa share tulisannya ini melalui dibawah ini.
Terima kasih bila ada salah tulis atau yang lain harap maklum dan dimaafkan.
Minggu, 22 Desember 2013
Analisis Laporan Keuangan (Melalui Prosedur audit)
Tidak satupun perusahaan yang tidak mempunyai Laporan keuangan. Baik itu perusahaan kecil / besar ataupun perusahaan jasa / barang, setiap perusahaan pasti mempunyai apa itu yang namanya laporan keuangan. Secara tidak langsung Laporan keuangan berisi mengenai informasi sebuah perusahaan. Dengan hanya melihat informasi di Laporan keuangan kita bisa tahu mengenai kondisi, kinerja, dls dari sebuah perusahaan. Nahhhh, masalahnya disini kita bisa atau tidak dalam analisa laporan keuangan. Apalagi kalau kita ini akuntan, kita tidak hanya bisa membuat tapi kita juga harus bisa menilai atau menganlisa Laporan keuangan.
Ok, pada kesempatan ini saya akan coba untuk memberitahu cara kita dalam menilai laporan keuangan melalui prosedur analitis. Prosedur analitis merupakan cara menganilisis secara umum atau cepat mengenai laporan keuangan. Sebelumnya saya mendapatkan ilmu ini dari hasil pembelajaran perkuliahan dan saya mencoba untuk menuliskannya di blog ini. berikut penjelasannya:
Analisis atau menilai Laporan keuangan Perusahaan.
1. Rasio-rasio keuangan
secara umum banyak orang menggunakan cara ini dalam menilai atau menganalisis Laporan keuangan. ada banyak rasio-rasio dalam keuangan. misal
Rasio likuiditas lancar = total aset lancar/total liabilitas lancar
Rasio Solvabilitas = Total liabilitas/total aset
Rasio Profitabilitas yang bisa dihitung dari ROA dan ROE
ROA= laba bersih/ total aset
ROE= laba bersih/ total ekuitas
dan banyak lagi perhitungan rasio yang lainnya yang dapat anda baca diBuku Manajemen Keuangan ataupun denganmeng searching di google. dengan menggunakan rasio kita dapat melihat kemampuan dari perusahaan misal kemampuan membayar utang dengan melihat Rasio Liabilitas dan solvabilitas. dls.
2. Common Size
common size itu membandingkan semua angka dengan satu angka. pada umumnya dineraca itu pembangdingnya adalah total aset, sedangkan di laba rugi pembanding itu adalah penjualan atau pendapatan. jadi caranya adalah dengan membandingkan nilai akun2 yang ada diaset dengan total aset. begitu juga di Laba rugi yaitu dengan cara mebandingkan akun2 yang ada dilaba rugi dengan pendapatan atau penjualan. yang mana hasil pembandingan tadi dibandingkan dengan laporan keuangan tahun lalu
3. Increase dan decrease.
yaitu dengan cara melihat kenaikan atau penurunan dari sebuah akun di laporan keuangan.
misalnya dengan cara: (penjualan tahun ini - penjualan tahun lalu) / penjualan tahun lalu x 100%
dan bisa dilakukan perhitungan di akun yang lainnya. dengan melihat icrease decrease kita dapat tahu mengenai penurunan atau kenaikan pada sebuah akun.
dan lain sebagainya banyak cara dalam kita menilai atau meng analisis L/K. tentunya perhitungan-perhitungan tersebut dibandingkan dengan tahun lalu dan juga dibandingkan dengan standar atau rata-rata industri atau perusahaan. dengan membandingkannya kita dapat mengetahui kondisi atau kinerja perusahaan itu berada dibawah atau dirata-rata atau bahkan diatas dari perusahaan lain yang sejenis.
Ada cara lain selain yang diatas. cara ini agak sedikit mendalem yaitu dengan cara pendekatan balanced atau profit and loss.
Pendekatan balanced dengan cara melihat neraca tahun ini dan tahun lalu. apabila pencatatan neraca tahun ini dan tahun lalu benar maka selisinya atar neraca itu benar, tidak lain selisihnya adalah profit and loss, sedangkan pendekatan profit and loss dengan cara melihat neraca tahun lalu dan laba rugi tahun sekarang. apabila neraca tahun lalu dan laba ruginya benar maka neraca tahun sekarang benar.
Seperti itulah yang bisa saya tulis. bila ada salah atau yang lainnya saya minta maaf dan harap maklum.
By:
zulijaz
On 07.24
Kamis, 28 November 2013
Kecenderungan Entitas
Secara sederhana kita dapat mengetahui suatu kondisi perusahaan atau entitas hanya sekedar dengan melihat Laporan kauangan. Di dalam Laporan Keuangan berisi mengenai hal-hal informasi yang terkait dengan perusahaan misal: kekayaan perusahaan yang bisa dilihat dari Neraca, proses bisnis (penjualan produk) yang bisa dilihat di Laporan Laba Rugi, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung menurut saya laporan Keuangan itu pendeskripsian dari sebuah entitas yang di jelaskan dalam bentuk angka-angka yang mana angka-angka yang ada mempunyai arti tersendiri dalam sebuah entitas.
Nah, yang jadi masalah sekarang apakah hasil Laporan Keuangan yang dibuat entitas sesuai dengan keadaan asli entitas atau hasil dari manipulasi yang dibuat sengaja oleh entitas agar Laporan Keuangan terlihat baik. Untuk mengecek atau memverifikasi hasil dari laporan keuangan dibutuhkan lah "auditor" untuk memeriksa apakah laporan Keuangan yang dibuat entitas bebas dari salah saji material dan sudah sesuai dengan PABU yang hasilnya berupa opini audit terhadap laporan keuangan.
Ok, langsung ke topik mengenai Kecenderungan Entitas yang berkaitan dengan Laporan Keuangan.
kecenderungan perusahaan berkaitan dengan Laporan keuangan
adalah:
OVERSTATEMENT, dan
UNDERSTATEMENT.
Apa itu overstatement dan understatement?. Overstatement dan understatement merupakan bagian dari Fraudulent Statement, yang mana Fraudulent statement ini merupakan salah satu dari 3 jenis fraud menurut ACFE.
Fraudulent Statement merupakan fraud yang berkaitan dengan laporan keuangan yang mana laporan keuangan tersebut tidak dibuat seperti apa yang seharusnya. Biasanya fraud jenis ini dilakukan oleh pihak management tingkat atas yang bertujuan untuk menarik pihak eksternal khususnya investor untuk tertarik menanamkan modalnya di entitas tersebut.
Fraudulent statemen terdiri dari dua, yaitu
Overstatement itu kecenderungan entitas melebih-lebihkan asset, dalam hal ini entitas lebih menonjolkan aset dengan memperbesar atau melebih-lebihkan jumlah aset didalam laporan keuangan agar supaya aset yang dimiliki terlihat sangat bagus.
Contoh menurut saya hal-hal yang dilakukan dientitas agar asset di Laporan keuangan terlihat bagus adalah secara extreem entitas melakukan manipulasi terhadap aset (jumlah aset sebenarnya tidak sesuai dengan jumlah aset di laporan keuangan) atau dengan cara melakukan penjualan-penjualan fiktif yang secara tidak langsung akan mempengaruhi naiknya jumlah piutang pada aset di laporan keuangan, dan lain sebagainya.
Sedangkan Understatement itu kecenderungan entitas mengurang-ngurangi kwajiban atau liabilities, dalam hal ini entitas lebih cenderung memperkecil atau mengurang-ngurangi jumlah kwajiban atau liabilities didalam laporan keuangan agar supaya jumlah utang yang dimiliki entitas terlihat sedikit.
Contoh menurut saya hal-hal yang dilakukan dientitas agar kwajiban di laporan keuangan terlihat kecil adalah secara extreem entitas melakukan manipulasi terhadap kwajiban atau liabilitas (jumlah kwajiban sebenarnya tidak sesuai dengan jumlah kwajiban di laporan keuangan), atau dengan cara memainkan cut off dengan mengakui utang di tahun depan padahal sesungguhnya utang tadi harusnya di akui ditahun ini, dan lain sebagainya.
Seperti itulah penjelasan yang bisa saya sampaikan mengenai kecenderungan entitas berkaitan dengan laporan keuangan. Jika ada salah tulis atau isi kulo nggeh nyuwun agunging pangapunten. Suwun
By:
zulijaz
On 07.45
Rabu, 27 November 2013
Suap Menyuap VS Laporan Keuangan
Pengetahuan ini saya dapat disaat saya ikut seminar Audit di Kampus. yang mana dalam seminar tersebut sedikit membahas mengenai hal Penyuapan misalkan di suatu lembaga. Yang dibahas itu dalam penyuapan apakah ada pengaruh praktik suap menyuap pada salah saji laporan keuangan. berikut dampak-dampak penuapan yang berkaitan dengan L/K.
Dampak penyuapan Terhadap laporan keuangan:
1. Praktik suap menyuap dalam proses Pengadaan ataupun Pembelian Barang.
Praktik suap menyuap dalam suatu lembaga yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab secara tidak langsung akan berpengaruh pada penyajian laporan keuangan. kenapa bisa berpengaruh?. karena dalam proses suap menyuap khususnya dalam proses pengadaan ataupun pembelian barang secara tidak langsung akan berpengaruh pada harga barang yang akan dibeli. secara langsung pihak yang tidak bertanggung jawab (yang melakukan suap menyuap) untuk pembelian atau pengadaan barang maka harga barang yang akan di beli atau diadakan akan lebih mahal dari harga pasaran. nah dari situ bisa terlihat, barang yang dibeli lebih mahal akan berdampak pada biaya dalam memperoleh barang (pembelian) tersebut sacara otomatis akan mengurangi profit, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada Laporan Keuangan khususnya Laporan laba rugi. Hasilnya lapran keuangan (Laporan Laba rugi) akan mengalami salah saji, yang harusnya suatu lembaga bisa memperoleh profit yang bagus akan tetapi adanya suap menyuap ini akan menurunkan profit [karena Harga perolehan barang lebih mahal dari harga pasaranya dan harga jual barang masih sama (akibat penyuapan di proses pengadaan dan pembelian)].
2. Praktik suap menyuap dalam proses Penjualan Barang.
nah dalam kasus ini hampir sama dengan ilustrasi diatas, yang membedakan hanyalah kalau dikasus ini proses suap menyuap dalam proses penjulan. pihak yang tidak bertanggung jawab (yang melakukan suap menyuap) untuk penjualan barang maka harga barang yang akan di jual lebih murah dari harga pasaran. nah dari situ bisa terlihat, barang yang dijual lebih murah akan berdampak pada Harga jual barang dalam penjualan tersebut, sacara otomatis akan mengurangi profit, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada Laporan Keuangan khususnya Laporan laba rugi. Hasilnya lapran keuangan (Laporan Laba rugi) akan mengalami salah saji, yang harusnya suatu lembaga bisa memperoleh profit yang bagus akan tetapi adanya suap menyuap ini akan menurunkan profit [karena Harga jual barang dibawah harga pasaran (akibat penyuapan di proses penjualan)].
3. untuk nomer 3 ini saya mengilustrasikan andaikanada orang terkena kasus diperadilan dan orang yang terkena kasus tadi mencoba untuk menyuap hakim agar dia bisa bebas dari tuntutan. nahhh, dari ilustrasi tersebut suap yang dilakukan oleh orang yang terkena kasus tadi apakah mempengaruhi laporan keuangan pengadilan?. dan jawabannya tidak berpengaruh. kenapa bisa begitu? karena jika terjadi seperti itu kecenderungan uang suap tadi tidak masuk pada keuangan pengadilan akan tetapi masuk pada kantong-kantong orang yang tidak bertanggung jawab.seperti itulah penjelasan yang bisa saya sampaikan, jika ada salah tulis atau isi kulo nggeh nyuwun agunging pangapunten.
Suwun
Untuk bisa lebih jelasnya bisa dibaca hasil resume seminar audit kemaren yang saya buat
By:
zulijaz
On 05.25
Langganan:
Postingan (Atom)
