Minggu, 22 Desember 2013
Analisis Laporan Keuangan (Melalui Prosedur audit)
Tidak satupun perusahaan yang tidak mempunyai Laporan keuangan. Baik itu perusahaan kecil / besar ataupun perusahaan jasa / barang, setiap perusahaan pasti mempunyai apa itu yang namanya laporan keuangan. Secara tidak langsung Laporan keuangan berisi mengenai informasi sebuah perusahaan. Dengan hanya melihat informasi di Laporan keuangan kita bisa tahu mengenai kondisi, kinerja, dls dari sebuah perusahaan. Nahhhh, masalahnya disini kita bisa atau tidak dalam analisa laporan keuangan. Apalagi kalau kita ini akuntan, kita tidak hanya bisa membuat tapi kita juga harus bisa menilai atau menganlisa Laporan keuangan.
Ok, pada kesempatan ini saya akan coba untuk memberitahu cara kita dalam menilai laporan keuangan melalui prosedur analitis. Prosedur analitis merupakan cara menganilisis secara umum atau cepat mengenai laporan keuangan. Sebelumnya saya mendapatkan ilmu ini dari hasil pembelajaran perkuliahan dan saya mencoba untuk menuliskannya di blog ini. berikut penjelasannya:
Analisis atau menilai Laporan keuangan Perusahaan.
1. Rasio-rasio keuangan
secara umum banyak orang menggunakan cara ini dalam menilai atau menganalisis Laporan keuangan. ada banyak rasio-rasio dalam keuangan. misal
Rasio likuiditas lancar = total aset lancar/total liabilitas lancar
Rasio Solvabilitas = Total liabilitas/total aset
Rasio Profitabilitas yang bisa dihitung dari ROA dan ROE
ROA= laba bersih/ total aset
ROE= laba bersih/ total ekuitas
dan banyak lagi perhitungan rasio yang lainnya yang dapat anda baca diBuku Manajemen Keuangan ataupun denganmeng searching di google. dengan menggunakan rasio kita dapat melihat kemampuan dari perusahaan misal kemampuan membayar utang dengan melihat Rasio Liabilitas dan solvabilitas. dls.
2. Common Size
common size itu membandingkan semua angka dengan satu angka. pada umumnya dineraca itu pembangdingnya adalah total aset, sedangkan di laba rugi pembanding itu adalah penjualan atau pendapatan. jadi caranya adalah dengan membandingkan nilai akun2 yang ada diaset dengan total aset. begitu juga di Laba rugi yaitu dengan cara mebandingkan akun2 yang ada dilaba rugi dengan pendapatan atau penjualan. yang mana hasil pembandingan tadi dibandingkan dengan laporan keuangan tahun lalu
3. Increase dan decrease.
yaitu dengan cara melihat kenaikan atau penurunan dari sebuah akun di laporan keuangan.
misalnya dengan cara: (penjualan tahun ini - penjualan tahun lalu) / penjualan tahun lalu x 100%
dan bisa dilakukan perhitungan di akun yang lainnya. dengan melihat icrease decrease kita dapat tahu mengenai penurunan atau kenaikan pada sebuah akun.
dan lain sebagainya banyak cara dalam kita menilai atau meng analisis L/K. tentunya perhitungan-perhitungan tersebut dibandingkan dengan tahun lalu dan juga dibandingkan dengan standar atau rata-rata industri atau perusahaan. dengan membandingkannya kita dapat mengetahui kondisi atau kinerja perusahaan itu berada dibawah atau dirata-rata atau bahkan diatas dari perusahaan lain yang sejenis.
Ada cara lain selain yang diatas. cara ini agak sedikit mendalem yaitu dengan cara pendekatan balanced atau profit and loss.
Pendekatan balanced dengan cara melihat neraca tahun ini dan tahun lalu. apabila pencatatan neraca tahun ini dan tahun lalu benar maka selisinya atar neraca itu benar, tidak lain selisihnya adalah profit and loss, sedangkan pendekatan profit and loss dengan cara melihat neraca tahun lalu dan laba rugi tahun sekarang. apabila neraca tahun lalu dan laba ruginya benar maka neraca tahun sekarang benar.
Seperti itulah yang bisa saya tulis. bila ada salah atau yang lainnya saya minta maaf dan harap maklum.
Jumat, 13 Desember 2013
Sinyal Indikator Adanya Fraud diPerusahaan
Fraud apa itu fraud?. bagi kalangan ekonom, akuntan, dll kata fraud merupakan hal yang tak asing didengar lagi. Ok, untuk mengingatkan kembali,fraud menurut IAI adalah setiap tindakan ilegal ditandai dengan penipuan, penyembunyian, atau pelanggaran kepercayaan. Sedangkan menurut ACFE fraud merupakan penggunaan pekerjaan seseorang untuk peng-kayakan pribadi melalui penyalahgunaan yang disengaja atau penyalah gunaan sumber daya organisasi atau aset. Fraud mencakup berbagai kesalahan dari karyawan, manajer, bahkan sampae eksekutif melalui penipuan kerja. Fraud sangat bersifat merugikan bagi Perusahaan.
Ok, untuk mengetahui sinyal ada tidaknya kecurangan (fraud) bisa dikaitkan dengan red flags. karena red flags itu bekaitan dengan sinyal adanya kecurangan (fraud) yang dilakukan disebuah perusahaan.
Berikut ini adalah beberapa indikator adanya kecurangan di sebuah perusahaan.
Indikator Sinyal-sinyal Adanya Fraud di Perusahaan
ada beberapa indikator yang dikategorikan dalam red flags, yaitu meliputi:
1. Manajemen mengesampingkan kontrol
Pihak manajemen yang ada diperusahaan telah mengesampingkan kontrol. jadi, kontrol perusahaan yang dibuat dalam bentuk SPI, SOP, aturan2, dll itu ada tapi tidak dilaksakan secara sepenuhnya. sehingga akibatnya risiko adanya kebocoran atau kecurangan sangat tinggi di perusahaan.
2. Kegagalan untuk menerima tanggung jawab
Didalam manajemen perusahaan setiap staf atau pekerja mempunyai tanggung jawab masing-masing dengan tugas pekerjaanya. kegagalan dalam menjalankan tugasnya membuat pegawai gagal dalam menerima tangung jawab yang telah diberikan. kegagalan ini tidak semata-mata bukan gagal dalam menjalankan tugasnya, tapi bisa juga gagal dalam melaksanakan amanat sesungguhnya dari perusahaan.
3. Gaya manajemen yang berlebihan
Gaya manajemen ini bisa gaya dari personal manajemen dan bisa juga gaya manajemen dalam menjalankan perusahaan. kalau dari sisi gaya personal bisa dilihat dari gaya hidup dan stylenya sehari-hari, apakah ada perubahan signifikan pada gaya hidup atau yang lainnya. sedangkan kalu dari sisi manajemennya sendiri bisa dilihat dari manajemen dalam menjalankan perusahaan, mengambil keputusan, atau yang lainya yang mana itu ada keanehan atau kejanggalan manajemen dalam menjalankan tugasnya.
4. Manfaat atau keuntungan yang berlebihan
kita juga harus mencurigai jika disebuah perusahaan mempunyai keuntungan yang berlebihan atau luar biasa. karena itu kemungkinan besar perusahaan melakukan overstatement ataupun understatement didalam laporan keuangan.
5. Hubungan kerja yang dekat
kecurangan dapat mudah diungkap jika itu dilakukan sendiri, akan tetapi lebih sulit diungkap jika kecurangan itu dilakukan oleh 2 atau lebih orang yang saling kerjasama untuk itu. oleh karea itu kita harus mencurigai ketika ada hubungan antar pegawai atau partner yang tidak biasa.
6. Kekuasaan atau akses yang tidak biasa
kekuasaan atau akses yang luar biasa yang dimiliki oleh salah satu pihak yang ada di manajemen membuat dia mempunyai wewenang atau hak yang orang lainnya tidak punya. dan jika itu terjadi disebuah perusahaan maka risikonya orang yang mempunyai kekuasaan yang luar biasa tadi bisa-bisa menyalahgunakan kekukasaannya untuk kepentingan pribadi dan menggunakan kekuasaan atau akses yang tidak biasa untuk bertindak curang di dalam sebuah perusahaan.
Jadi, itulah beberapa indikator yang dikategorikan kedalam red flags menurut Sofyan 2005. akan tetapi mengenai penjelasanya berasal dari logika penjalasan saya sendiri dari melihat indikator2 tersebut. apabila ada kekeliruan atau kesalahan dalam menjelaskannya saya minta maaf dan harap maklum, karena disini posisi kita sama-sama belajar.
Terima Kasih.
By:
zulijaz
On 08.24
Kamis, 28 November 2013
Kecenderungan Entitas
Secara sederhana kita dapat mengetahui suatu kondisi perusahaan atau entitas hanya sekedar dengan melihat Laporan kauangan. Di dalam Laporan Keuangan berisi mengenai hal-hal informasi yang terkait dengan perusahaan misal: kekayaan perusahaan yang bisa dilihat dari Neraca, proses bisnis (penjualan produk) yang bisa dilihat di Laporan Laba Rugi, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung menurut saya laporan Keuangan itu pendeskripsian dari sebuah entitas yang di jelaskan dalam bentuk angka-angka yang mana angka-angka yang ada mempunyai arti tersendiri dalam sebuah entitas.
Nah, yang jadi masalah sekarang apakah hasil Laporan Keuangan yang dibuat entitas sesuai dengan keadaan asli entitas atau hasil dari manipulasi yang dibuat sengaja oleh entitas agar Laporan Keuangan terlihat baik. Untuk mengecek atau memverifikasi hasil dari laporan keuangan dibutuhkan lah "auditor" untuk memeriksa apakah laporan Keuangan yang dibuat entitas bebas dari salah saji material dan sudah sesuai dengan PABU yang hasilnya berupa opini audit terhadap laporan keuangan.
Ok, langsung ke topik mengenai Kecenderungan Entitas yang berkaitan dengan Laporan Keuangan.
kecenderungan perusahaan berkaitan dengan Laporan keuangan
adalah:
OVERSTATEMENT, dan
UNDERSTATEMENT.
Apa itu overstatement dan understatement?. Overstatement dan understatement merupakan bagian dari Fraudulent Statement, yang mana Fraudulent statement ini merupakan salah satu dari 3 jenis fraud menurut ACFE.
Fraudulent Statement merupakan fraud yang berkaitan dengan laporan keuangan yang mana laporan keuangan tersebut tidak dibuat seperti apa yang seharusnya. Biasanya fraud jenis ini dilakukan oleh pihak management tingkat atas yang bertujuan untuk menarik pihak eksternal khususnya investor untuk tertarik menanamkan modalnya di entitas tersebut.
Fraudulent statemen terdiri dari dua, yaitu
Overstatement itu kecenderungan entitas melebih-lebihkan asset, dalam hal ini entitas lebih menonjolkan aset dengan memperbesar atau melebih-lebihkan jumlah aset didalam laporan keuangan agar supaya aset yang dimiliki terlihat sangat bagus.
Contoh menurut saya hal-hal yang dilakukan dientitas agar asset di Laporan keuangan terlihat bagus adalah secara extreem entitas melakukan manipulasi terhadap aset (jumlah aset sebenarnya tidak sesuai dengan jumlah aset di laporan keuangan) atau dengan cara melakukan penjualan-penjualan fiktif yang secara tidak langsung akan mempengaruhi naiknya jumlah piutang pada aset di laporan keuangan, dan lain sebagainya.
Sedangkan Understatement itu kecenderungan entitas mengurang-ngurangi kwajiban atau liabilities, dalam hal ini entitas lebih cenderung memperkecil atau mengurang-ngurangi jumlah kwajiban atau liabilities didalam laporan keuangan agar supaya jumlah utang yang dimiliki entitas terlihat sedikit.
Contoh menurut saya hal-hal yang dilakukan dientitas agar kwajiban di laporan keuangan terlihat kecil adalah secara extreem entitas melakukan manipulasi terhadap kwajiban atau liabilitas (jumlah kwajiban sebenarnya tidak sesuai dengan jumlah kwajiban di laporan keuangan), atau dengan cara memainkan cut off dengan mengakui utang di tahun depan padahal sesungguhnya utang tadi harusnya di akui ditahun ini, dan lain sebagainya.
Seperti itulah penjelasan yang bisa saya sampaikan mengenai kecenderungan entitas berkaitan dengan laporan keuangan. Jika ada salah tulis atau isi kulo nggeh nyuwun agunging pangapunten. Suwun
By:
zulijaz
On 07.45
Rabu, 27 November 2013
Suap Menyuap VS Laporan Keuangan
Pengetahuan ini saya dapat disaat saya ikut seminar Audit di Kampus. yang mana dalam seminar tersebut sedikit membahas mengenai hal Penyuapan misalkan di suatu lembaga. Yang dibahas itu dalam penyuapan apakah ada pengaruh praktik suap menyuap pada salah saji laporan keuangan. berikut dampak-dampak penuapan yang berkaitan dengan L/K.
Dampak penyuapan Terhadap laporan keuangan:
1. Praktik suap menyuap dalam proses Pengadaan ataupun Pembelian Barang.
Praktik suap menyuap dalam suatu lembaga yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab secara tidak langsung akan berpengaruh pada penyajian laporan keuangan. kenapa bisa berpengaruh?. karena dalam proses suap menyuap khususnya dalam proses pengadaan ataupun pembelian barang secara tidak langsung akan berpengaruh pada harga barang yang akan dibeli. secara langsung pihak yang tidak bertanggung jawab (yang melakukan suap menyuap) untuk pembelian atau pengadaan barang maka harga barang yang akan di beli atau diadakan akan lebih mahal dari harga pasaran. nah dari situ bisa terlihat, barang yang dibeli lebih mahal akan berdampak pada biaya dalam memperoleh barang (pembelian) tersebut sacara otomatis akan mengurangi profit, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada Laporan Keuangan khususnya Laporan laba rugi. Hasilnya lapran keuangan (Laporan Laba rugi) akan mengalami salah saji, yang harusnya suatu lembaga bisa memperoleh profit yang bagus akan tetapi adanya suap menyuap ini akan menurunkan profit [karena Harga perolehan barang lebih mahal dari harga pasaranya dan harga jual barang masih sama (akibat penyuapan di proses pengadaan dan pembelian)].
2. Praktik suap menyuap dalam proses Penjualan Barang.
nah dalam kasus ini hampir sama dengan ilustrasi diatas, yang membedakan hanyalah kalau dikasus ini proses suap menyuap dalam proses penjulan. pihak yang tidak bertanggung jawab (yang melakukan suap menyuap) untuk penjualan barang maka harga barang yang akan di jual lebih murah dari harga pasaran. nah dari situ bisa terlihat, barang yang dijual lebih murah akan berdampak pada Harga jual barang dalam penjualan tersebut, sacara otomatis akan mengurangi profit, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada Laporan Keuangan khususnya Laporan laba rugi. Hasilnya lapran keuangan (Laporan Laba rugi) akan mengalami salah saji, yang harusnya suatu lembaga bisa memperoleh profit yang bagus akan tetapi adanya suap menyuap ini akan menurunkan profit [karena Harga jual barang dibawah harga pasaran (akibat penyuapan di proses penjualan)].
3. untuk nomer 3 ini saya mengilustrasikan andaikanada orang terkena kasus diperadilan dan orang yang terkena kasus tadi mencoba untuk menyuap hakim agar dia bisa bebas dari tuntutan. nahhh, dari ilustrasi tersebut suap yang dilakukan oleh orang yang terkena kasus tadi apakah mempengaruhi laporan keuangan pengadilan?. dan jawabannya tidak berpengaruh. kenapa bisa begitu? karena jika terjadi seperti itu kecenderungan uang suap tadi tidak masuk pada keuangan pengadilan akan tetapi masuk pada kantong-kantong orang yang tidak bertanggung jawab.seperti itulah penjelasan yang bisa saya sampaikan, jika ada salah tulis atau isi kulo nggeh nyuwun agunging pangapunten.
Suwun
Untuk bisa lebih jelasnya bisa dibaca hasil resume seminar audit kemaren yang saya buat
By:
zulijaz
On 05.25
Langganan:
Postingan (Atom)
